Dipimpin Rektor Asing, Wapres Resmikan Perguruan Tinggi Siber Pertama di Indonesia

Jakarta, Beritainspiratif.com – Sejarah Universitas Siber Swasta pertama di Indonesia, diresmikan oleh Wakil Presiden RI Prof. Dr. (HC) KH Ma’ruf Amin. Selasa (22/09/2020), Universitas Siber Asia (Unsia) atau Asia Cyber University secara resmi diresmikan sebagai perguruan tinggi siber pertama di Indonesia.

Peresmian dilaksanakan secara online. Hadir pula pencetus pendirian Unsia adalah Dr. Drs. El Amy Bermawi Putera, MA yang juga Rektor Universitas Nasional (Unas).

Baca Juga:Satpol-pp-kota-bandung-catat-351-pelanggaran-protokol-kesehatan

Rektor Unsia adalah Prof Jang Youn Cho, Ph.D, CPA yang berasal dari Korea Selatan. Prof Youn Cho merupakan rektor asing pertama di Indonesia. Ia mempunyai pengalaman dalam memimpin perguruan tinggi online bereputasi global.

Dalam sambutannya, Wapres KH Ma’ruf Amien mengucapkan selamat kepada Yayasan Memajukan Ilmu dan Kebudaya (YMIK), sebagai lembaga pengayom Unsia. “Selamat kepada YMIK atas berdirinya Unsia sebagai perguruan tinggi yang mengusung pembelajaran penuh secara online. Semoga peresmian ini dapat memberikan akses pendidikan tinggi yang merata dan terjangkau serta mendorong pembangunan SDM (sumber daya manusia) unggul di Indonesia,” kata Wapres Ma’ruf Amin dalam sambutannya.

Unsia memiliki lima program studi, yakni Komunikasi, Manajemen, Akuntansi, Sistem Informasi, dan Informatika. Memiliki kampus di Menara Unas 2 di Jalan Harsono RM, Ragunan, Jakarta Selatan. Unsia merupakan “adik kandung” dari Unas, perguruan tinggi swasta tertua di Jakarta dan tertua kedua di Indonesia.

Kampus utama Unas ada di Jalan Sawo Manila, Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Unas didirikan pada 15 Oktober 1949. Unas dan Unsia berada di bawah Yayasan Memajukan Ilmu dan Kebudayaan (YMIK) didirikan tokoh-tokoh nasional, seperti Prof Dr Mr Sutan Takdir Alisjahbana, Prof Dr Soemitro Djojohadikusumo, dan lain-lain

Dalam kesempatan peresmian, Wapres mengungkapkan bahwa Unsia sebenarnya telah disiapkan dan diluncurkan pada tahun 2019 oleh Menteri Riset dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) Prof Drs H Mohamad Nasir, Ak, M.Sc, PhD. Saat ini, Mohamad Nasir adalah Staf Khusus Wakil Presiden Republik Indonesia.

Selanjutnya Unsia mendapatkan izin operasional dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim, BA, MBA, pada Agustus 2020.

Universitas Siber Asia, lanjut Wapres KH Ma’ruf Amien, didirikan untuk memberikan akses pendidikan tinggi yang seluas-luasnya dan terjangkau kepada masyarakat. Hal ini tentu akan memberikan dampak yang positif bagi pengembangan pendidikan di indonesia.

Sebagai negara kepulauan dengan kondisi sosial ekonomi yang beragam, pendidikan melalui sistem pembelajaran daring atau e-learning dapat menjadi sebuah pilihan bagi masyarakat untuk mengakses pendidikan tinggi.

Disampaikan bahwa kehadiran Unsia menjadi penting mengingat angka partisipasi kasar (apk) perguruan tinggi di Indonesia pada tahun 2019, menurut BPS masih sekitar 30,28 peren. Artinya dibandingkan dengan jumlah penduduk usia 19–23 tahun, masyarakat yang melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi hanya sekitar 30 persen.

Sedangkan menurut angka survei angkatan kerja nasional (sakernas) BPS pada Februari 2020, angkatan kerja Indonesia yang berjumlah 137,91 juta, hanya 14,2 juta lulusan perguruan tinggi. Atau hanya 10,3 persen yang berkesempatan menikmati pendidikan tinggi.

“Dengan adanya Universitas Siber Asia ini saya berharap angka-angka tersebut akan terus meningkat, sehingga masyarakat yang dapat menikmati pendidikan tinggi akan terus bertambah sejalan dengan upaya pemerintah menempatkan pembangunan SDM (sumber daya manusia) unggul sebagai prioritas nasional,” kata guru besar ilmu ekonomi syariah itu.

Wapres yakin, SDM unggul merupakan kunci untuk memenangkan persaingan global. Sistem pembelajaran daring atau e-learning memungkinkan masyarakat untuk belajar kapan saja (anytime), di mana saja (anywhere) dengan biaya lebih terjangkau dan waktu belajar pun lebih fleksibel.

Diungkapkan, meskipun sistem e-learning dapat menjadi alternatif sistem pembelajaran, tetapi saat ini baru sekitar 20 dari 4.771 perguruan tinggi di Indonesia yang menerapkan pembelajaran daring atau e-learning. Ia mengharapkan semakin banyak lembaga pendidikan yang membuka sistim pembelajaran daring e-learning. Sekaligus akan semakin banyak kesempatan bagi masyarakat untuk melanjutkan pendidikan tinggi.

“Sistem pembelajaran online yang dilaksanakan oleh Unviersitas Siber Asia secara tidak langsung meningkatkan penguasaan skill teknologi dan informasi bagi mahasiswanya. Hal ini sangat diperlukan karena penguasaan teknologi dan informasi menjadi syarat mutlak dalam upaya meningkatkan daya saing dan kualitas SDM,” kata Ma’ruf Amin.

Dalam kesempatan itu, Wapres KH Ma’ruf Amien juga menyampaikan bahwa pembelajaran secara daring memiliki tantangan tersendiri, karena itu diperlukan kreatifitas yang tinggi. Baik bagi pengajar maupun mahasiswanya. Para dosen harus keluar dari gaya konvensional dan lebih inovatif dalam menyiapkan materi dan mekanisme pembelajaran serta memanfaatkan seluruh potensi teknologi yang ada untuk membantu pelaksanaan pembelajaran.

Di sisi lain, lanjutnya, para mahasiswa juga dituntut lebih mandiri. Mereka harus dapat memanfaatkan seluruh sumber pengetahuan untuk melengkapi proses pembelajaran jarak jauh ini. “Saya berharap Mister Jang Youn Cho dapat berbagi pengalamannya untuk memimpin Unsia menjadi sebuah perguruan tinggi online yang berprestasi, dan membanggakan,” kata Wapres KH Ma’ruf Amin.

Wapres optimistis dengan pengalaman yang dimilikinya Prof Jang Youn Cho, Unsia dapat berkolaborasi dengan perguruan tinggi lainnya di Indonsia. Sehingga mampu meningkatkan mutu dan pemerataan kualitas pendidikan di Indonesia serta mendorong daya saing di tingkat internasional.

Wapres KH Ma’ruf Amien berpesan, Unsia dalam pelaksanaan metode e-learning jangan sampai terjadi moral harzard. Artinya menggampangkan metode pembelajaran secara daring. Tidak boleh ada alasan terhadap kualitas, baik kualitas pembelajaran maupun pengujian. Mahasiswa harus tetap bisa diuji dengan standar yang sama, dengan pembelajaran konvensional. Sehingga kualitas pembelajaran dan lulusan program studi ini tetap dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan.

“Saya juga berpesan kepada Unsia agar membekali pendidikan karakter kebangsaan bagi para mahasiswanya. Sehingga dapat menumbuhkan rasa cinta Tanah Air; menempatkan kepentingan masyarakat sebagai yang utama tanpa memandang SARA (suku, agama, ras, antargolongan).”

Wapres menjelaskan, pemerintah saat ini terus berupaya meningkatkan kualitas infrastruktur telekomunikasi yang memadai dan menjangkau seleuruh wilayah indonesia. Tujuannya agar tidak ada hambatan bagi masyarakat dalam mengakses pendidikan tinggi secara daring.

“Masyarakat di daerah seperti terpencil juga harus mendapatkan akses internet agar dapat berpartisipasi dalam pembelajaran e-learning yang semakin berkembang saat ini,” ujarnya.**

Baca Juga:

Bagikan: