Wali Kota Bandung Tinjau Pengolahan Sampah RW 09 dan Titik Banjir RW 01 SUKAMISKIN

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan saat melakukan kunjungan langsung ke lapangan di Kelurahan Sukamiskin, Rabu 7 Januari 2026 / Diskominfo


Kota Bandung, Beritainspiratif.com - Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan melakukan pemantauan langsung kondisi lapangan di RW RW Kelurahan Sukamiskin, pada Rabu 7 Januari 2026.

Peninjauan kondisi lapangan tersebut merupakan tindak lanjut dari kegiatan Siskamling Siaga Bencana yang telah digelar di Aula Kelurahan Sukamiskin, Kecamatan Arcamanik, pada Selasa, (6/1/2026) kemarin.

Tinjauan ke Pengolahan Sampah RW 09

Pengelolaan sampah di RW 09 Kelurahan Sukamiskin, Kecamatan Arcamanik, mendapat perhatian khusus dari Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan. Dalam kunjungannya, Farhan melihat langsung praktik pengelolaan sampah yang selama ini dijalankan warga, bukan hanya sekadar laporan tertulis.

Ketua RW 09 Sukamiskin, Dandan Sunardja dalam paparannya menyampaikan, kunjungan Wali Kota Bandung menjadi momentum penting bagi warganya. Kehadiran orang nomor satu di Kota Bandung itu bertujuan untuk memastikan kondisi di lapangan sesuai dengan laporan yang selama ini disampaikan.

“Beliau ingin melihat langsung kondisi dan situasi di RW 09. Jadi bukan hanya membaca laporan, tapi mengecek sendiri ke lapangan,” kata Dandan, Rabu 7 Januari 2026.

Baca Juga: Siskamling Siaga Bencana di Kelurahan Sukamiskin Farhan Soroti Drainase, Kabel Udara dan PJU

Dandan menjelaskan, perjalanan RW 09 menuju kawasan ramah lingkungan telah dimulai sejak 2015 melalui sosialisasi intensif kepada warga. Upaya tersebut membuahkan hasil pada 2018, ketika RW 09 ditetapkan sebagai Kawasan Bebas Sampah (KBS) tingkat Kecamatan Arcamanik.

Sejak saat itu, warga secara konsisten memilah sampah organik dan anorganik dari sumbernya. Sampah organik diolah melalui keranjang Takakura, sistem komposting skala rumah tangga yang menghasilkan kompos untuk kebutuhan tanaman warga.

Tak hanya itu, Dandan juga mengungkapkan, RW 09 juga mengembangkan biodigester sebagai inovasi pengolahan sampah organik. Melalui proses tersebut, sampah diubah menjadi gas yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan memasak, sekaligus menghasilkan slurry yang digunakan sebagai pupuk tanaman.

“Selain menghasilkan gas, biodigester juga menghasilkan cairan yang bermanfaat untuk tanaman,” jelasnya.

Untuk pengelolaan di Tempat Penampungan Sementara (TPS), Dandan menyebut hanya sekitar 11 persen sampah residu yang dibuang. Sementara sampah organik dan anorganik sudah tuntas dikelola di lingkungan RW. 

Sampah anorganik dikelola melalui kerja sama dengan bank sampah, yang melibatkan peran aktif PKK dalam proses pemilahan.

“Kalau sudah terkumpul dan dipilah nanti bank sampah datang ke sini dan kita jual. Jadi hampir zero waste, kecuali residu,” ungkapnya.

Dari total produksi sampah sekitar 6,9 ton per bulan, hanya 11 persen sampah residu yang masih harus dibuang ke TPS.

Sementara itu, Lurah Sukamiskin, Sofyan Ismail, menyebut RW 09 sebagai salah satu RW kebanggaan Kelurahan Sukamiskin. Menurutnya, capaian tersebut layak menjadi contoh bagi wilayah lain.

“RW 09 sudah mendapat penghargaan ProKlim Lestari. Pengolahan sampahnya juga sudah selesai tinggal 11 persen residu. Inovasinya pun lengkap mulai dari Takakura hingga biodigester,” kata Sofyan.

Baca Juga: Tata Cara Pembuatan Laporan SPT Tahunan PPH Orang Pribadi Lewat CORETAX!

Baca Juga: Dinkes Kota Bandung Ingatkan WASPADAI Super Flu Varian Baru, Ini Yang Harus Dihindari!

Tinjauan ke Titik Banjir

Sebelumnya Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan juga telah melakukan peninjauan kondisi lapangan di RW 01 Kelurahan Sukamiskin.

Monitoring dilakukan untuk melihat secara langsung keluhan warga terhadap genangan air saat hujan deras yang kerap terjadi di RW 01 Sukamiskin.

Berdasarkan hasil peninjauan, genangan tersebut terjadi akibat luapan sungai yang airnya terbagi ke dua wilayah yakni RW 7 Kelurahan Antapani Wetan dan RW 1 Kelurahan Sukamiskin.

Lurah Sukamiskin, Sofyan Ismail menjelaskan, genangan lebih lama terjadi di RW 1 Sukamiskin. Berbeda dengan RW 7 Antapani Wetan yang airnya cepat surut, di RW 1 air justru tertahan dan menggenang di jalan lingkungan.

“Secara kondisi ketinggian sungai itu lebih tinggi dari badan jalan. Jadi ketika hujan turun dan debit air naik air meluber ke jalan,” kata Sofyan.

Menurutnya, upaya penanganan sebenarnya sudah dilakukan dengan pembangunan tanggul sistem buka-tutup. Namun, kondisi tersebut justru menimbulkan persoalan baru. Saat tanggul ditutup untuk menahan luapan sungai, air dari jalan tidak bisa mengalir kembali ke sungai.

“Air sungai tidak keluar tapi air dari jalan juga tidak bisa masuk ke sungai. Akhirnya tergenang dan harus dipompa,” jelasnya.

Menanggapi kondisi tersebut, Wali Kota Bandung bersama jajaran terkait, termasuk Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) membahas sejumlah langkah solusi. Salah satunya adalah pengerukan sedimentasi sungai untuk memperlancar aliran air.

“Ke depan kemungkinan akan dilakukan pengerukan terlebih dahulu. Setelah itu, ada penambahan batu kali di sisi kiri dan kanan sungai untuk memperkuat saluran air dan kirmir,” kata Farhan.

Lihat Berita dan Artikel lainnya di: Google News 

Berita Terkait