Perjalanan Lea, Wisudawan Magister Terbaik ITB Asal Semarang, Kampung Sewu Jadi Fokus Penelitian

Lea saat Wisuda Oktober 2025 di Sabuga ITB. (ITB/Ariadi Atmoko)


BERITAINSPIRATIF.COM - Aprilea Sofiastuti Ariadi terpilih menjadi salah seorang wisudawan terbaik pada Wisuda Oktober ITB 2025 yang digelar pada Kamis–Jumat (23–24/10/2025) berlangsung di Sasana Budaya Ganesa (Sabuga) ITB.

Wisudawan asal Semarang yang akrab disapa Lea ini merupakan mahasiswi pada Program Studi Magister Arsitektur, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) Institut Teknologi Bandung.

Lea mengambil tesis dari pengalaman profesionalnya, kompetisi desain, hingga akhirnya berfokus pada kampung, dan ini merupakan suatu entitas yang unik.

Perjalanan pendidikan

Lea merupakan alumnus S1 Universitas Diponegoro dan sempat merintis karier di salah satu biro arsitektur di Kota Bandung. Ia terlibat dalam berbagai proyek publik, mulai dari perancangan alun-alun hingga perpustakaan. Selama kurang lebih lima tahun berkecimpung di dunia profesional, Lea merasakan besarnya tanggung jawab dalam mengerjakan proyek-proyek yang berdampak langsung pada masyarakat.

Baca Juga: Ketua MUI Bidang Fatwa Kritisi Pasal Pemidanaan Pelaku Nikah Siri dan Poligami Dalam KUHP Baru

Dari pengalaman tersebut, tumbuh dorongan untuk memperdalam keilmuannya.

“Kalau dari aku pribadi, (jadi) ingin belajar lebih banyak untuk memberi lebih banyak,” ujarnya dikutip laman resmi ITB.

Selain itu, terdapat pula persyaratan pendidikan lanjutan yang perlu dipenuhi untuk memperoleh legalitas profesi arsitek. Hal inilah yang mendorongnya melanjutkan studi Magister Arsitektur di ITB.

Kembali ke dunia akademik membuat Lea merasakan perbedaan yang cukup signifikan dengan dunia profesional. Menurutnya, ruang akademik memberi kebebasan eksplorasi gagasan namun masih dalam bimbingan dosen, berbeda dengan praktik profesional yang dipengaruhi berbagai faktor eksternal seperti anggaran dan kebutuhan klien.

Selama studi, ia memperoleh banyak pengalaman berkesan, termasuk berinteraksi dengan mahasiswa lintas angkatan yang “lebih fresh di ideanya, referensi-referensinya,” tuturnya.

Ia juga mendapat kesempatan mengikuti beberapa studio bersama exchange student, yang memberinya pengalaman kolaborasi lintas budaya dan perspektif.

Baca Juga: Tata Cara Pembuatan Laporan SPT Tahunan PPH Orang Pribadi Lewat CORETAX!

Dari kompetisi desain hingga menelusuri kampung

Perjalanan Lea menuju topik tesisnya bermula saat mengikuti kompetisi desain di Singapura. Kompetisi tersebut menantangnya merancang sebuah pulau besar dengan tujuan menghidupkan kembali spirit kehangatan dan humanisme melalui arsitektur.

“Itu pertama kali saya merancang skala yang sebesar itu. Itu benar-benar besar banget dan ternyata skala itu harusnya multidisiplin, ada rancang kota, ada Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) segala macam. Tapi karena waktu itu kita hanya dari arsitektur saja, jadi yang didesain arsitekturnya,” katanya.

Pengalaman tersebut mendorong Lea memperluas sudut pandangnya. Ia kemudian mengikuti workshop bersama dosen-dosen Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) ITB dan terjun langsung ke Kampung Lebak Siliwangi untuk melakukan wawancara serta pemetaan. Dari sana, ketertarikannya pada kampung sebagai entitas permukiman semakin menguat.

“Permukiman manusia itu bermula dari kampung, bahkan di kota pun kampung itu masih ada. Dan sebenarnya, kampung (adalah) suatu entitas yang unik,” tuturnya.

Baca Juga: Pakar Muhammadiyah: 1 Ramadan Jatuh pada 18 Februari 2026, Ini Penjelasannya!

Lea kemudian menelusuri asal-usul kampung-kampung di kota-kota Pulau Jawa yang umumnya berkembang dari kawasan sungai menuju permukiman. Sungai, menurutnya, merupakan aspek penting yang menghubungkan wilayah pesisir dengan daratan. Dari penelusuran tersebut, ia menemukan Kampung Sewu di Solo sebagai objek penelitian yang menarik perhatiannya.

“Ada kampung yang diapit oleh Bengawan Solo, dan sungai yang menghubungkannya bernama Kali Pepe. Dulunya terdapat kedua sungai yang menghubungkan kota Solo dengan major port di Pulau Jawa. Dari situ akhirnya saya memulai tesis itu,” katanya.

Kampung Sewu dipilih sebagai prototipe penelitian. Pada masa lalu, kampung ini merupakan salah satu bandar penting yang menghubungkan wilayah dalam Kota Solo dengan kawasan di sekitar sungai, lengkap dengan jembatan sebagai penghubung. Namun, seiring berubahnya moda transportasi, fungsi bandar pun perlahan memudar.

Dari sejarah dan budaya yang begitu banyak dari kampung tersebut, ia menilai banyak kampung-kampung di Indonesia memiliki kekayaan nilai dan keunikannya sendiri. Melalui penelitiannya, Lea berupaya menemukan formula yang dapat diaplikasikan pada kampung-kampung lain agar nilai sejarah, budaya, dan identitas lokal tetap terjaga.

Rencana ke depan

Setelah menyelesaikan studi magisternya, Lea berencana kembali berkecimpung di dunia profesional. Menurutnya, pengalaman praktik akan selalu membuka kemungkinan panggilan akademik berikutnya di masa depan.

Berita Terkait