Surabaya, Beritainspiratif.com - Dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) berhasil meraih penghargaan dalam malam penghargaan Festival Film Indonesia (FFI) 2021. Dia adalah Kukuh Yudha Karnanta, S.S, M.A., yang memenangkan kategori Karya Kritik Film Terbaik melalui karya berjudul “Going Gaga Kejahanaman: Martabat dan Pandangan Dunia Perempuan Tanah Jahanam”.

Kukuh – begitu sapaan karibnya – mengaku cukup kaget saat namanya disebut sebagai pemenang. Meski dirinya memiliki harapan dan prediksi bahwa tulisan artikelnya kompetitif, namun Kukuh sempat terdiam setengah tidak percaya.

“Untuk sejenak saya merasa freeze. Mungkin juga karena efek yang membacakan nominasinya adalah Dian Sastro, hehee..” candanya.

Kado Dies Natalis Ke-67

Dosen Bahasa dan sastra Inggris tersebut menyebutkan bahwa kemenangan tersebut sebagai alarm untuk segera melanjutkan studinya dengan mengambil tema kajian seputar film dan mendedikasikan sebagai kado dies natalis bagi Unair.

"Penghargaan ini saya terima bertepatan dengan hari ulang tahun Unair. Semoga bisa bermakna bagi almamater," harapnya.

Baca Juga: Pakar UGM Sebut 4 Faktor Penyebab Kecelakaan di Jalan Tol

Menghadiri malam penghargaan tertinggi bagi dunia perfilman Indonesia tentu memberikan pengalaman berharga tersendiri bagi Kukuh. Dalam perhelatan tersebut, dia bisa bertemu dengan Presiden Joko Widodo, beberapa tokoh besar Indonesia, dan aktor-aktor terkenal yang biasa menghiasi layar kaca.

“Sebenarnya  FFI ini bukan wilayah yang sepenuhnya baru. Sebelumnya saya pernah hadir sebagai finalis LA Light Indie Movie di studio Trans TV tahun 2006 dan memenangkan dokumenter pendek pada Festival Film Dokumenter Yogyakarta 2009 lalu. Tapi ketika berinteraksi dengan tokoh-tokoh tadi, level nervous-nya sangat berbeda,” ceritanya.

Baca Juga: ITS bersama DUDI, Berhasil Ciptakan Drone Logistik Antarpulau

Kedepan, dosen terbaik FIB UNAIR pada 2020 lalu itu berencana akan terus menulis kritik film dan belajar bersama dengan mahasiswa serta kolega lainnya.

“UNAIR punya prodi, SDM, dan juga banyak pengajar yang potensial menjadi peneliti maupun kreator film. Meskipun penghargaan ini tidak masuk scopus, semoga UNAIR bisa lebih serius menggarap, mengembankan film sebagai produk kegiatan yang bukan hanya sebagai dokumentasi saja tetapi diniatkan sebagai karya intelektual yang artistik,” ungkapnya di situs Unair News.

(IST)

Baca Juga:

DLHK Kota Bandung: Momentum Tidak Bergantung Kepada TPA Sarimukti

Rekor MURI, Jembatan Gantung Pertama Hubungkan Dua Provinsi Jabar dan Jateng

Sirkuit Mandalika Diresmikan, Presiden Jokowi Jajal Naik Motor Sendiri

Dosen SBM ITB Luncurkan Buku Manajemen Risiko untuk Startup

Pemkot Bandung Sebar 500 Wifi Gratis untuk Balai RW, Masjid dan Taman

Berbasis Web, Kota Bandung Miliki Peta Batas Wilayah Hingga Tingkat RT