Bandung, Beritainspiratif.com - Kepala Bidang Penanggulangan Bencana Diskar PB Kota Bandung Dian Rudianto mengatakan, adanya peningkatan bencana alam selama 2020 meliputi bencana banjir, longsor, hingga bangunan roboh.

Menurutnya, pada tahun 2020 peristiwa bencana alam didominasi oleh longsor yang terjadi sebanyak 19 kali.

"Iya (bencana meningkat). Selain banjir, ada angin puting beliung, longsor, kirmir roboh, pohon tumbang, bangunan roboh. Paling mendominasi longsor untuk 2020 (sebanyak) 19 kejadian, mayoritas di perbatasan Bandung Utara," ujarnya di Balai Kota Bandung, Jalan Wastukencana Selasa (27/10/2020).

Baca Juga:Situ-bagendit-garut-akan-ditata-jadi-destinasi-wisata-kelas-dunia

Menurut Dian, wilayah Bandung Utara memiliki potensi lebih tinggi terjadinya longsor. Hal tersebut terbukti dengan beberapa kejadian longsor di wilayah Cidadap, Hegarmanah, dan Coblong pada 2019 lalu. Tak hanya itu, kata dia, Cibiru juga memiliki potensi serupa dengan kawasan Bandung Utara.

"Di 2019 itu ada longsor rata-rata wilayah kecamatan Cidadap, Coblong, Hegarmanah berbatasan dengan Bandung Utara,"ucapnya.

Dian mengatakan, total keseluruhan bencana yang terjadi di Kota Bandung pada 2019-2020.

"Jumlah seluruhnya dari banjir, angin puting beliung, longsor, kirmir roboh, pohon tumbang, dan bangunan roboh 2019 (ada) 39 kejadian, dan 2020 43 kejadian,"jelasnya.

Dian mengungkapkan, selalu ada potensi bencana alam pada tiap tahunnya. Terlebih ketika musim penghujan. Sejauh ini belum ada korban jiwa dari peristiwa yang terjadi.

"Potensi (bencana) pasti ada, karena sudah masuk musim hujan. Korban jiwa tidak ada," ungkapnya.

Selain itu, pihaknya hanya melakukan antisipasi melalui imbauan, baik kepada masyarakat maupun aparat kewilayahan untuk siaga menghadapi bencana.

"Kami hanya bisa melakukan pengimbauan saja ke masyarakat, Kenali bencana, (misalnya) di sini bencana longsor, kenali resikonya, resikonya ya roboh. Imbauannya yah menanam pohon, lubang biopori, sebatas itu. Jadi kami kembalikan lagi ke masyarakat,"ungkapnya.

Pihaknya mengaku merasa cukup terkendala dengan adanya pandemi. Pasalnya, selain melakukan pendataan peristiwa bencana di lapangan, pihaknya juga harus tetap mengimbau masyarakat agar menerapkan protokol kesehatan selama proses penanggulangan bencana di lapangan.

"Kadang-kadang seperti yang terjadi di Hegarmanah, longsor. Masyarakat banyak yg datang, tidak memakai masker, berkerumun, pekerjaannya double (dua kali). Mendata sambil mengingatkan masyarakat protokol kesehatan. Jadi bagi kami itu sosialisasinya harus dua yang kami lakukan. Protokol kesehatan dan pendataan kejadian bencana,"pungkasnya.

Baca Juga:

(Mugni)