Transaksi Tunai Banyak Kelemahan, Begini Penjelasan BI?

BANDUNG. Transaksi ritel dengan menggunakan uang tunai di Indonesia mencapai 99,4 persen. Persentase tersebut merupakan yang tertingi dibanding negara Asean lainnya.

Kepala Sistim Pembayaran Non Tunai Bank Indonesia (BI) Jawa Barat, Hermawan Novianto mengatakan peringkat kedua setelah Indonesia adalah Thailand 97,2 persen, menyusul tetangga negara Indonesia yakni Malayasia 92,3 persen.

Menurutnya, penggunaan uang tunai paling rendah di Asean dipegang oleh Singapura. Negara tersebut mencatat 55,5 persen penggunaan uang tunai untuk bertransaksi di ritel.

“Dibandingkan dengan negara peer Asean lainnya, persentase transaksi ritel dengan uang tunai di Indonesia paling tinggi,” kata Hermawan di Kampung Sampireun, Kabupaten Garut, Jum’at (20/10).

Hermawan mengungkapkan, transaksi tunai yang selama ini berlaku di Indonesia cukup banyak kelemahannya.

Ia mencatat pengelolaan uang rupiah mulai dari perencanaan, pengeluaran, pengedaran, pencabutam dan penarikam, serta pemusnahan cukup tinggi biaya yang harus dikeluarkan BI.

“Pengelolaan uang rupiah oleh BI mencapai Rp 3 triliun per tahun,” ungkapnya.

Dia menambahkan, misalnya transaksi tunai juga cukup merepotkan Jasa Marga selama ini untuk menyediakan uang kembalian. Juga, sambung Hermawan, transaksi dengan tunai cukup menyita banyak waktu.

“Jasa Marga setiap hari harus menyiapkan Rp 2 miliar untuk uang kembalian,” pungkasnya. (gan)

Bagikan: