Tasikmalaya October Festival Dorong Iklim Investasi

TASIKMALAYA. Wali Kota Tasikmalaya, Budi Budiman secara resmi membuka soft opening Tasikmalaya Oktober Festival (TOF) di Jalan HZ Mustofa, Tasikmalaya, Sabtu (14/10).

Dikatakannya, TOF 2017 merupakan salah satu bagian dari mendorong iklim investasi dan peningkatan sektor-sektor unggulan Kota Tasikmalaya.

“Tasikmalaya itu punya visi menjadi kota perdagangan dan industri terbaik tahun 2025,” ujar Budi Budiman kepada BeritaInspiratif, Minggu (15/10).

Sebagai basis kekuatan di bidang tersebut, potensi industri kreatif dan kuliner dikemas menjadi suatu even kewajiban yang terus dimunculkan.

Selama TOF 2017, sejumlah even terus dilangsungkan selama beberapa hari ke depan sembari menyambut HUT Tasikmalaya. Even itu diantaranya Tasik Creative Festival (TCF), Tasikmalaya Culture and Craft Festival, dan Tasikmalaya Invesment Expo Conference (TIEC).

“Kita mengundang negara-negara Asean dan negara lain, walaupun sekarang baru lima yang hadir. Kita juga harus bergerak sekarang, bicara persaingan bebas dan globalisasi, ke depan harus punya kompetensi dan daya saing,” ungkapnya.

Dia mengaku, melalui even ini diharapkan dapat terus mendorong pertumbuhan ekonomi di Tasikmalaya. Selama ini, pertumbuhan kota ini selalu lebih tinggi dafi nasional dan Jabar.

“Alhamdulillah tentu saja pertumbuhan ekonomi Kota Tasikmalaya di tahun 2016 ini berdasarkan data BPS saat ini dalam posisi terus trend nya naik di 6,94 persen,” katanya.

Beberapa kerjasama telah dibangun dengan sejumlah negara. Misalnya Jerman, ada kerjasama pendampingan untuk industri kreatif dan bordir.

“Mereka (Jerman) punya kelebihan di desain atau model, kelemahan kita industri kreatif. Bagaimana mendongkrak marketnya? salah satunya kerjasama agar bisa memiliki kemampuan model dan desain yang lebih bagus, kreatif dan inovasi,” tuturnya.

Sementara dari Singapura, negara itu membidik mendong untuk dikembangkan di negaranya.

“Mereka ingin ada Kampung Mendong sendiri, karena memang dia seorang perajin di Singapuranya. Walaupun kita tidak bisa menjual langsung, tapi minimal kita bisa melempar dari produk-produk kita, dan mereka melempar ke tempat yang lain. Kita tahu Singapura itu kota jasa, dan kota dagang,” pungkasnya. (gan)

 

Bagikan: