Setelah Unpad dan ITB, Kini Prof. Meilinda Jadi Rektor Perempuan Pertama Itenas Bandung

Bandung, Beritainspiratif.com – Yayasan Pendidikan Dayang Sumbi resmi melantik Prof. Meilinda Nurbanasari, Ir., MT., Ph.D.sebagai rektor Institut Teknologi Nasional periode 2020-2025 menggantikan Dr. Imam Aschuri, Ir., MT yang sebelumnya telah menjabat selama dua periode (2012-2016 dan 2016-2020), Kamis (30/1/2020).

Dalam acara ini, Dr. Iwan Inrawan Wiratmaja, Ir. selaku Ketua Pengurus Yayasan Pendidikan Dayang Sumbi membuka acara pelantikan dengan memberikan laporan kemajuan capaian akreditasi Itenas serta kinerja dari penelitian dan kerja sama yang dihasilkan selama periode 2016-2020.

Pelantikan ini menjadikan Prof. Meilinda sebagai Rektor perempuan pertama yang menjabat sejak Itenas berdiri sebagai sebuah Institut Teknologi tahun 1972.

Profil

Menempuh pendidikan S1 di Teknik Metalurgi Universitas Indonesia, wanita berusia 51 tahun ini sempat menempuh pendidikan magister Ilmu dan Teknik Bahan di Institut Teknologi Bandung, kemudian melanjutkan studi doktoralnya di The University of Sheffield, Inggris.

Dosen tetap di Program Studi Teknik Mesin Itenas sejak tahun 1994, Prof. Meilinda memiliki jabatan akademik sebagai Guru Besar dalam bidang material teknik. Pada masa jabatan rektor sebelumnya, Prof. Meilinda menjabat sebagai wakil rektor I bidang akademik dan kemahasiswaan periode 2016 hingga 2020.

Pada akhir masa jabatannya, beliau mencalonkan diri sebagai rektor dan pada akhir bulan Desember 2019 berhasil terpilih dari 4 bakal calon lainnya.

Prof. Meilinda dikenal di antara rekan-rekannya sebagai wanita tangguh yang memiliki disiplin tinggi. Beliau percaya bahwa kesuksesan selalu berawal dari diri sendiri dan bergantung pada usaha yang dijalankan.

Pada sambutannya sebagai rektor yang baru saja dilantik, Prof. Meilinda menyampaikan bahwa perguruan tinggi kini dihadapkan pada kebijakan-kebijakan baru yang diharapkan akan mendorong proses pembelajaran yang semakin otonom dan fleksibel sehingga akan tercipta kultur belajar yang inovatif, tidak mengekang, dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing perguruan tinggi.

Oleh karena itu, Itenas harus bekerja keras agar menjadi perguruan tinggi yang adaptif, produktif, inovatif, dan kompetitif. Tentunya konsep Merdeka Belajar yang dicetuskan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim, B.A., M.B.A. juga dibahas dalam kaitannya dengan kesiapan Itenas menghadapi segala kebaruan dan perubahan.

Terobosan kebijakan Merdeka Belajar sangat membawa angin segar dalam perubahan kampus yang jauh lebih otonom dimana mahasiswa adalah penerima manfaat utama dari empat inisiatif perubahan tersebut.

Yanis

Sumber: laman resmi Itenas

Bagikan: