Foto: Diskominfo
Kota Bandung, Beritainspiratif.com - Rencana Pemerintah Kota Bandung untuk melakukan penertiban dan penanganan tunawisma mendapat respons beragam dari warga. Secara umum, masyarakat menyatakan setuju dengan upaya penertiban.
Selain berdampak pada ketertiban dan keindahan kota, persoalan ini juga menyentuh aspek kemanusiaan yang memerlukan penanganan menyeluruh dan berkelanjutan.
Salah seorang tunawisma, Sri (43) mengaku, merantau ke Bandung untuk mencari pekerjaan demi menghidupi anaknya. Namun keterbatasan kesempatan kerja membuatnya terpaksa bertahan hidup di jalanan.
“Saya merantau karena mau cari kerja, tapi susah. Yang penting bisa ngasih nafkah buat anak,” ujarnya saat ditemui di kawasan Saparua, Rabu 14 Januari 2026.
Baca Juga: 14 Terminal Tipe C di Kota Bandung Akan Direvitalisasi! Angkot Beralih Jadi Feeder
Sri mengaku saat ini kerap tidur di trotoar dan berpindah-pindah lokasi, seperti di kawasan Jalan Banda dan Jalan Riau.
Ia berharap pemerintah dapat membantu masyarakat kurang mampu, khususnya dalam pemenuhan hak pendidikan anak-anak.
“Harapan saya, pemerintah bisa membantu orang-orang yang enggak mampu, supaya anak-anak bisa tetap sekolah,” katanya.
Sementara itu, Sejumlah warga menilai keberadaan tunawisma di ruang publik, seperti trotoar dan pinggir jalan, menimbulkan ketidaknyamanan serta berpotensi membahayakan.
Syahrul, warga Tubagus Ismail, mengatakan tunawisma yang berada di pinggir jalan dapat mengganggu keselamatan lalu lintas.
“Kalau di pinggir jalan itu rawan, takutnya kenapa-kenapa. Jadi penertiban memang perlu supaya lebih tertib,” ujarnya.
Baca Juga: Gubernur Jabar: Urusan Nyawa Negara Harus Hadir Diatas Pertimbangan Biaya
Meski mendukung penertiban, Syahrul berharap langkah tersebut harus dibarengi dengan solusi konkret bagi para tunawisma. Menurutnya, penyediaan hunian terjangkau dan pelatihan kerja menjadi kebutuhan utama.
“Mereka jangan cuma dipindahin. Harus dikasih solusi, misalnya rumah susun, rumah subsidi, atau pelatihan kerja supaya punya penghasilan,” katanya.
Pendapat serupa juga disampaikan Ayu, warga Ciwasta. Ia menyebut kondisi tersebut memengaruhi kesan pertama wisatawan.
“Kalau menurut saya pribadi agak mengganggu, apalagi buat wisatawan. Jadi kesannya kurang bagus karena banyak tunawisma di pinggir jalan,” ujarnya.
Meski demikian, Ayu mendukung rencana penertiban yang dilakukan Pemerintah Kota Bandung dengan catatan disertai solusi jangka panjang. Ia menyebut perlunya penyediaan fasilitas hunian dan pelatihan kerja.
“Setuju ditertibkan, tapi harus dibarengi dengan pemberdayaan. Dikasih rumah susun, pelatihan-pelatihan, supaya mereka bisa mandiri,” tambahnya.
Baca Juga: Kian Marak! Pemkot Bandung Siapkan Operasi Penertiban Tunawisma dan Manusia Gerobak
Pendapat serupa disampaikan Tintin, warga Bandung. Ia menilai persoalan tunawisma bukan hanya soal ketertiban, tetapi juga masalah sosial yang membutuhkan empati.
“Keindahan kota memang terganggu, tapi kasihan juga mereka. Kalau ditertibkan harus dikasih tempat dan pekerjaan,” tuturnya.
Dampak keberadaan tunawisma juga dirasakan oleh petugas lapangan. Seorang petugas kebersihan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung mengungkapkan, aktivitas tunawisma kerap menghambat proses pembersihan area publik.
“Mengganggu juga pas nyapu, tapi kita tunggu dulu kalau masih ada yang tidur,” katanya.
Ia berharap pemerintah dapat membuka akses pekerjaan bagi tunawisma agar mereka memiliki penghasilan tetap dan tidak lagi bertahan hidup di jalanan.
“Kalau ada kerjaan, dikasih kerjaan. Kasihan, apalagi yang bawa anak,” ujarnya.