Menggenal Inggri Dwi, Pendiri Komunitas Baca Khusus Perempuan



Bandung,Beritainspiratif.com - Sebagai bentuk kepedulian terhadap literasi dan kaum muda, hal yang dilakukan Inggri Dwi Rahesi sangat menginspirasi banyak orang, pasalnya dara asal Tasikmalaya ini mendirikan sebuah komunitas bernama Konde Sartika.

Ditemui di Balai Perpustakaan dan Pengarsipan Daerah Provinsi Jawa Barat Inggri bercerita, Konde Sartika merupakan komunitas perempuan dengan fokus kegiatannya adalah literasi.

"Di Konde Sartika itu kegiatan mingguannya kita ada arisan buku dan untuk kegiatan bulanannya kita ada yang bersifat lebih ke pengabdian masyarakat," ungkap dara yang biasa membaca buku 3-4 judul buku per bulan tersebut.

Untuk kegiatan mingguan selalu diadakan arisan buku, secara teknis, anggota Konde Sartika berkumpul kemudian membaca bukunya masing-masing lalu ada pengocokan nama, dan nama yang keluar harus mempresentasikan apa yang dibacanya.

"Jadi kita di sana juga menambah wawasan dari setiap buku yang dibaca," imbuhnya

Adapun untuk kegiatan bulanan, Konde Sartika biasa melakukan kegiatan edukasi langsung kepada masyarakat, mengingat latar belakang anggota Konde Sartika yang merupakan mahasiswa dengan berbagai konsentrasi studi.

"Adapun untuk kegiatan bulanannya, kita berkontribusi ke masyarakat jadi kebetulan di Konde Sartika itu membernya kebanyakan mahasiswa, ada yang dari kebidanan, kesehatan, keguruan, jadi setiap bulan itu misalnya kita ke masyarakat memberikan edukasi tentang kesehatan, tentang gizi, tentang KB, kemampuan dari setiap anggota Konde Sartika itu diimplementasikan di masyarakat," kata Inggri.

Tak tanggung-tanggung, yang semula Konde Sartika didirikan di Kota Tasikmalaya 1,5 tahun lalu, kini semangat itu terus menjalar dan kini Konde Sartika didirkan pula di Kabupaten Bandung.

"Konde Sartika berdiri pertamanya di Kota Tasikmalaya, itu sekitar 1 setengah tahun yang lalu, baru-baru ini konde Sartika didirikan di daerah Cicalengka juga baru beberapa bulan yang lalu, untuk yang di Tasik anggotanya ada sekitar 40 orang" paparnya.

Menjadi Duta Perpustakaan Jawa Barat 2018

Minat Inggri terhadap dunia literasi nampaknya tak cukup di sana, seolah tak lengkap dengan mengorganisir perempuan di Kota Tasik dan Cicalengka untuk mampu meningkatkan minat baca, Inggri kini menjadi Duta Perpustakaan Jawa Barat.

Dia bercerita, proses untuk menjadi duta perpustakaan Jawa Barat dilaluinya dengan berbagai tahap. Mulai dari tes tulis, persentasi, wawancara, hingga memaparkan program apa yang akan dilaksanakan setelah dinobatkan menjadi duta perpustakaan.

"Untuk prosesnya sendiri itu ada tes tulis, sampai dua kali, kemudian juga presentasi program kemudian juga ada wawancaranya juga," ucapnya.

Maret 2018 lalu, Inggri mendaftarkan diri sebagai peserta pasanggiri Duta Perpustakaan Jawa Barat, dan kini hampir setahun sudah dia menjalani status tersebut. Tentu bukan hal yang mudah mengemban tugas sebagai pegiat literasi di Jawa Barat, yang membuatnya semakin giat memberikan edukasi kepada masyarakat.

"Adapun program yang sudah dijalankan hampir selama 1 tahun ini, adalah literasi keluarga, biasanya kami memberikan penyuluhan atau edukasi kepada orang tua, ibu-ibu KB, kemudian ke anak-anak, kemudian ke sekolah-sekolah ke siswa juga, untuk memberikan motivasi bahwa membaca itu sangat penting," jelasnya.

Tak pandang bulu, bagi Inggri, literasi perlu terus digalakkan tidak hanya di Jawa Barat tapi untuk seluruh warga Indonesia baik itu anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak, dan semua kalangan lainnya

Meskipun berdasarkan laporan Most Littered Nation In the World yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, tidak membuat Inggri patah arang, karena baginya masyarakat Indonesia bukan malas membaca tapi mereka perlu bacaan yang sesuai kebutuhannya.

Suatu hari dia pernah berkunjung ke Kabupaten Kuningan untuk menemui ibu-ibu di sana, para ibu-ibu membutuhkan buku-buku tentang masakan, maka Inggri dan kawan-kawannya memenuhi kebutuhan tersebut.

"Saya pernah sama teman-teman ke Kuningan, ketemu sama ibu-ibu di sana, masyarakat di sana, ternyata yang mereka butuhkan itu buku masakan, saya kasih buku-buku itu dan mereka sangat antusias membacanya," papar Inggri.

Dirinya bahkan sedikit memberi catatan bagi pihak yang mengatakan bahwa masyarakat Indonesia malas membaca, bagi Inggri warga Indonesia tidak sama sekali malas membaca namun sekali lagi, masyarakat itu mau membaca buku tapi harus sesuai kebutuhannya.

"Tinggal kemampuan kita saja, sejauh mana memahami kebutuhan kebutuhan masyarakat itu," tandas mahasiswi Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia tersebut.     (Tito)

Berita Terkait