Kyai Subchi, Sosok Ulama Dibalik Keajaiban ‘Bambu Runcing’

Bandung, Beritainspiratif.com – Tahukah anda negara Indonesia memiliki senjata yang membuat musuhnya ketakutan? Senjata ini telah dipergunakan oleh para leluhur kita untuk menumpas para penjajah di bumi pertiwi.

Senjatanya bukan terbuat dari material canggih, bukan pula didatangkan dari luar negeri.

Dia bahkan begitu mudah didapatkan, dan proses pembuatannya pun sangat cepat.

Senjata ampuh itu tak lain bernama “Bambu Runcing”. Masyarakat Jawa mengenal bambu dengan sebutan pring.

Senjata tradisional yang dibuat dari batang pohon bambu ini menjadi saksi perjalanan panjang bangsa ini meraih kemerdekaan.

Dilansir laman Suaramuslim, sebagian besar masyarakat Indonesia mungkin sudah mengenali senjata ini, namun tahukah kita dari mana asal usul bambu runcing? Siapa sosok dibalik pengenalan bambu runcing hingga akhirnya dipergunakan secara masif untuk melawan para tentara Belanda dan Jepang?

Dari penelusuran beberapa sumber di internet, disebutkan bahwa salah satu pencetus bambu runcing sebagai senjata perlawanan masa itu berasal dari kalangan kyai.

Dialah Subchi, seorang ulama dari Parakan. Cerita bermula dari keinginan para santri dan pejuang untuk bergabung dalam melawan penjajah. Mereka kemudian menemui sang kyai. Saat itu lah kyai Subchi mengenalkan senjata bambu runcing.

Subchi merupakan putera dari seorang ulama besar di Indonesia, kyai Wahab. Sosok yang menjadi komandan laskar pejuang yang membantu TKR (Tentara Keamanan Rakyat) itu ternyata guru dari pahlawan ternama, Jenderal Soedirman.

Di mata para santri, Subchi merupakan ulama yang memiliki pemahaman agama begitu kuat.

Dia juga yang mampu menggerakkan para santri dan pejuang lainnya tergerak melakukan perlawanan terhadap penjajah di Parakan.

Popularitas bambu runcing semakin meluas setelah sang kyai memerintahkan para santrinya untuk membuat lalu menjadikannya senjata untuk melawan para penjajah.

Dengan senjata tradisional itu pula rakyat Indonesia berhasil memenangkan beberapa peperangan.

Sebagian orang percaya bahwa bambu runcing bukan  senjata biasa.

Di dalamnya seakan terkandung kekuatan supranatural hingga mampu menjadikan musuh ketakutan.

Sebagian sumber menyatakan bahwa kekuatan senjata bambu runcing berasal dari do’a yang dipanjatkan oleh Kyai Suchi sebelum para pejuang membawanya bertarung di medan pertempuran.

Agaknya alasan tersebut masuk akal.

Pada dasarnya, semua makhluk hidup bahkan benda mati bisa merasakan energi do’a yang dipanjatkan oleh manusia.

Penemuan Dr. Masaru Emoto terkait perubahan wujud menakjubkan dari molekul air yang dido’akan menjadi bukti nyata bahwa benda dapat merespon energi positif yang diberikan oleh manusia.

Kedua, kita semua sepakat bahwa do’a memiliki kekuatan energi luar biasa.

Dengan berdoa, sesuatu yang terkadang dianggap mustahil, namun akhirnya bisa tercapai.

Doa juga menjadikan manusia itu tetap optimis akan adanya sebuah harapan. Di sejumlah perusahaan besar mulai membiasakan untuk mengadakan brainstorming di pagi hari sambil meneriakkan yel-yel yang menjadi ruh perusahaan.

Ini bukti bahwa sebuah pernyataan penguatan atau do’a bisa mempengaruhi semangat hidup atau gairah seseorang.

Poin terpentingnya sebenarnya terletak pada rasa keyakinan pada sebuah do’a yang dipanjatkan oleh para pejuang dulu.

Tak peduli seperti apapun bentuk senjatanya, ketika seseorang yakin akan pertolongan Allah SWT, disitu mereka akan mendapatkan kemenangan.

Disamping itu, penggunaan bambu runcing sebagai senjata para pejuang menjadi pilihan tepat masa itu.

Pasalnya, senjata ini bisa membuat korban merasakan sakit luar biasa, mulai dari infeksi sampai luka yang tak kunjung sembuh.

Lain halnya dengan peluru yang langsung membuat korban meninggal saat itu juga. Senjata bambu runcing juga tak bersuara, sehingga para pejuang bisa menghabisi ratusan tentara penjajah tanpa diketahui keberadaannya.

(Kaka)

Bagikan: