Humas Politik, Tidak Hanya Pencitraan Semata!

Bandung, Beritainspiratif.com – Kerjasama Perhumas BPC Bandung Jabar bersama Radio Klite 107,1 FM pada program talkshow bulan Desember 2018 ini memasuki episode 17. Talkshow pada bagian 1 ini menghadirkan narasumber Dr.Eki Baihaki, M.Si. – Pakar Komunikasi Politik dan Pengurus Perhumas BPC Bandung dipandu co-host Hadi Purnama – Dosen Prodi Digital PR Telkom University dan Pengurus Perhumas BPC Bandung, berlangsung pada hari Selasa, (4/12/2018) pukul 17.00 – 18.00 wib.

Live Talkshow mengangkat tema “Humas Politik” dengan topik bahasan menelusuri Humas Politik (Political PR) dari mulai aspek konseptual hingga implementasinya dalam praktik politik saat ini, yang sudah barang tentu penting bagi para birokrat, politisi, media hingga akademisi.

Dr.Eki Baihaki, M.Si. menyampaikan bahwa hampir di setiap bidang kehidupan sosial, budaya, ekonomi terlebih bidang politik tidak bisa dilepaskan dari pentingnya menghadirkan Humas atau Public Relations, baik sebagai filosofi maupun strategi komunikasi dalam mencapai tujuan politik. Bahkan saat ini Humas Politik sepertinya telah menjadi “metode ajaib” dengan dampak besarnya yang berdimensi positif sekaligus negatifnya, ujar Eki.

Humas Politik dapat didefinisikan sebagai proses manajemen individu atau organisasi melalui komunikasi yang bertujuan untuk mempengaruhi, membangun, dan memelihara hubungan dan membangun reputasi terbaik untuk mencapai tujuan politik.

Humas politik melalui aktifitas komunikasi politik, pada aktualitasnya telah menimbulkan beragam distorsi. Didorong oleh pesatnya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, telah menumbuh suburkan politik pencitraan. Atau dengan ungkapan yang lain, dalam bahasa Budayawan Ahmad Sobary, “politik salon kecantikan”.

Saat ini komunikasi politik bagaikan “sebuah salon” yang mengurus make up, bedak dan gincu, yang utamanya digunakan untuk merebut posisi kepemimpinan politik.

Lebih lanjut dikatakan Eki, bahwa berkembangnya komunikasi politik model salon kecantikan, salah satu faktornya adalah karena absennya etika politik di level elit. Padahal, di samping perlunya aturan hukum yang jelas, komunikasi politik, sebagai perwujudan demokrasi juga menghendaki berlakunya fatsun politik agar konstestasi politik dapat berjalan dengan sehat, tutur Eki.

“Saat ini, sebagian besar masyarakat kita masih mudah terpukau dan terjebak kedalam persepsi dan pencitraan semu bahkan palsu yang diterima sebagai realitas yang sesungguhnya” ungkapnya..

Maka disinilah pentingnya peran strategis Perhumas, untuk menjadi promotor untuk membumikan Etika Kehumasan. Agar praktek kehumasan senantiasa menjadi alat kebaikan bagi kepentingan bangsa dan negara. Menjadi panduan bagi aktor-aktor komponen strategis bangsa dalam bersikap dan bertindak dalam mengimplementasikan filosofi dan strategi kehumasan, termasuk pada pada ranah politik yang sarat akan pencitraan dan kegaduhan, imbuh Eki.

Padahal sejatinya berpolitik tidaklah senaif dan sedangkal yang dipersepsikan dan diaktualisasikan oleh sebagian besar politisi kita. Politik memiliki keluhuran dan nilai yang menuntun pada kedalaman mengelola tata kehidupan bersama berbangsa dan bernegara berdasarkan prinsip etika, keadilan, toleransi, kebersamaan, altruisme.

Juga politik keberpihakan demi mewujudkan kesejahteraan bersama, termasuk membangun pencerahan dan kesadaran bagi rakyat melalui kesantunan kata-kata dan perilaku beradab dalam berpolitik.

Ditambahkan Eki, Dalam perspektif Plato, sejatinya kata-kata dari mulut politisi adalah sarana untuk mengeksplorasi kesadaran kemanusiaan untuk menyampaikan kebenaran dan keyakinan positif. Bagi Plato, politisi adalah moralis “pemintal kata-kata” yang tak mudah kehilangan inspirasi dan selalu membicarakan kebenaran dan masa depan. Meski pada sisi yang lainnya menurut filsuf Prancis Voltaire “Politik adalah seni merancang kebohongan”

Maka menjadi tanggung jawab kita semua, para akademisi dan praktisi kehumasan yang tergabung dalam wadah Perhumas dan pihak-pihak yang terkait yang memiliki niat baik bagi bangsa dan negara untuk membumikan Etika Kehumasan dan Etika Komunikasi Politik agar wajah komunikasi politik kita lebih indah dan bermartabat.

Juga membumikan spirit negarawan dalam diri seorang politisi. Seorang politisi, sejatinya adalah seorang negarawan. Thomas Jefferson memiliki definisi yang sangat baik mengenai politikus dan negarawan. Politikus biasanya hanya memikirkan pemilihan yang akan datang, sementara negarawan memikirkan generasi yang akan datang.

Senada dengan hal tersebut dalam pandangan Aristoteles, politisi yang bermartabat itu adalah politisi yang berupaya mengubah rakyat dari sekadar ”hidup belaka” (bare life) menjadi ”hidup yang baik” (good life).

Juga pentingnya membumikan literasi politik sebagai bauran pengetahuan, skill dan sikap politik. Literasi politik sebagai gerakan dari civil society untuk “melek politik”. Literasi politik dimaksudkan untuk agar masyarakat mampu membaca kamuflase politik elitis dari aktor politik dalam meraih jabatan politik dengan berbagai cara yang melanggar etika politik.

Penerapan komunikasi politik yang beretika mencakup semua elemen komunikasi yaitu aktor (para politikus), pesan, media, dan masyarakat. berarti pembicaraan, ucapan atau perkataan, harus benar secara substantif dan redaksional.

Gunakan kata-kata yang efektif, tepat sasaran, komunikatif, mudah dimengerti. Gunakan perkataan yang baik, ungkapan yang pantas, santun, tidak kasar dan tidak menyinggung perasaan dan tentu saja pembicaan dan komunikasi yang baik harus dilandasi niat dan komitmen pribadi yang terbaik bagi kepentingan bangsa dan negara.

Perhumas, sebagai organisasi profesi kehumasan harus mengobarkan dan mempromosikan kesadaran (awarness), bahwa setiap insan bangsa Indonesia secara fungsional hakekatnya adalah Humas Indonesia, yang ihlas untuk membangun citra dan reputasi bangsa yang terbaik

Mari kita semua berjuang sesuai dengan kompetensinya masing masing menyebarkan semangat “Indonesia Bicara baik” untuk membangun reputasi terbaik Indonesia diranah glabal dan mengobarkan optimisme akan Indonesia menjadi bangsa yang besar dan bermartabat, pungkas Eki.

Yanis

Bagikan: