Belajar Dari Rasulullah Jadilah Pribadi Yang Tawadhu

Beritainspiratif.com – Allah Subhanà Wataala berfirman dalam surat Al-Furqàn, ayat 63, : “Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan ‘salam’.

Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa membanggakan dirinya sendiri dan berjalan dengan angkuh maka dia akan menghadap Allah dan Allah murka kepadanya.” (HR. Ahmad).

Dalam berbagai hadits Nabi Saw banyak berbicara mengenai bentuk, ciri-ciri tawadhu dan tanda-tanda yang menunjukkan ketawadhuan seseorang. Di antaranya sebagai berikut:

Pertama :

Mau mengajak bicara dengan anak kecil, berbaur dengan mereka, memberi salam pada mereka, dan bermain-main bersama mereka. Nabi Saw. biasa memberi salam kepada anak-anak,  bermain-main bersama anak-anak bahkan sesekali mencipratkan air ke wajah mereka.  Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan dalam kitab Shahihnya dengan sanadnya sampai pada Mahmud bin Rabi’ bahwa ia berkata, “Aku mulai berakal ketika Nabi Saw mencipratkan air ke wajahku dari timba, ketika itu aku baru berumur lima tahun.”

Kedua :

Berbaur satu majelis dengan fakir miskin dan pembantu. Kebanyakan orang jahiliyah jika mereka memiliki kedudukan, kekuatan, dan kekuasaan biasanya mereka tidak mau duduk bersama dengan orang yang tidak sama kedudukan dan status sosialnya dengan mereka.

Mereka mengutarakan keberatan mereka kepada Rasulullah jika harus duduk bersama dengan orang-orang miskin, para budak, dan para pembantu.

Mereka meminta kepada Rasul agar mengusir semua dari majelis mereka, barulah mereka mau beriman kepada Rasul dan duduk bersama beliau. Atau paling tidak, mereka ingin agar Rasulullah mengkhususkan satu hari sebuah majelis khusus untuk mereka. Sebuah majelis yang tidak bercampur dengan orang-orang miskin.

Rasulullah tidak mau memenuhi permintaan mereka. Allah merekam ditolaknya permintaan orang-orang jahiliyah itu di dalam al-Qur’an:

“Janganlah engkau mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan petang hari, mereka mengharapkan keridhaan-Nya.

Engkau tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatan mereka dan mereka tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan engkau (berhak) mengusir mereka, sehingga engkau termasuk orang-orang yang zalim. (QS.Al-An’âm: 52)

Ketiga :

Memenuhi permintaan kaum fakir miskin, manusia biasa serta memberi bantuan kepada mereka. Di antara tawadhu yang terpuji adalah seseorang mau mengabdi pada orang lain, fakir miskin dan memberikan uluran bantuan kepada mereka, juga memenuhi permintaan mereka.

Jika mereka menghentikannya, maka ia berhenti menyertai mereka. Jika mereka berbicara padanya, ia mendengarkan. Jika mereka meminta bantuan, maka ia membantu. Jika mereka mengadukan kezaliman, maka ia membantu menegakkan keadilan bagi mereka. Jika mereka mengeluh padanya keterbatasan hidupnya, maka ia mendoakan mereka agar dilapangkan hidupnya dan memberikan bantuan semampunya.

Di antara petunjuk yang diajarkan Rasulullah adalah memberikan bantuan kepada fakir miskin dan mendengarkan mereka serta memenuhi kebuyuhan orang yang meminta. Anas bin Malik berkata, “Ada seorang budak wanita cilik di Madinah yang memegang tangan Rasulullah dan menggeretnya ke mana ia suka “. (HR. Bukhari).

Keempat :

Memakan makanan jika jatuh dan masih mungkin dimakan. Termasuk ciri tawadhu yang dapat kita baca dalam Sunnah Nabawiah bahwasanya jika ada makanan jatuh ke tanah, Rasulullah tidak membiarkannya. Akan tetapi, beliau mengambilnya ďan membersihkannya dengan membuang kotoran seperti debu yang menempel padanys lantas memakannya. Beliau selalu menjilati jari-jarinya setelah makan. Beliau tidak merasa risih akan hal itu sama sekali.

Dari Anas bin Malik, pembantu Rasulullah, bahwasanya beliau jika makan menjilati jari-jarinya tiga kali. Rasulullah bersabda, “Jika makanan kalian jatuh, maka buanglah kotorannya dan makanlah, dan jangan meninggalkannya untuk setan!” Rasulullah tidak pernah mencela makanan yang dihidangkan kepadanya.

Kelima :

Memenuhi undangan siapa saja yang mengundang, orang miskin atau orang kaya. Di antara sikap tawadhu adalah memenuhi undangan orang yang mengundang dan menyertai mereka dalam suka dan duka mereka. Tidak boleh kita membedakan apakah mereka orang kaya atau orang miskin. Bahkan, harus tetap bersemangat memenuhi undangan orang miskin meskipun makanan mereka sedikit dan tidak menggerakkan nafsu makan. Karena memenuhi undangan mereka dapat memasukan rasa bahagia dan gembira ke dalam hati mereka.

Jangan sampai kita sebagai orang muslim bertingkah laku seperti orang jahiliyah yang hanya memenuhi undangan orang kaya karena melihat  lezat dan mewahnya makanan yang dihidangkannya. Lalu menolak undangan orang miskin karena tingkatan makananya ada di bawah mereka atau orang kaya. Tidak mengenyangkan dan tidak membangkitkan selera nafsu makan.

Saat Fathu Mekah, Nabi Saw. masuk rumah Ummu Hani’ binti Abdul Muthalib dengan perut lapar dan berkata, “Apakah engkau punya makanan?”  Ummu Hani’ menjawab, “Aku tidak memiliki apa-apa kecuali pecahan roti kering.” Rasulullah berkata, “Bawa kemari.”

Rasulullah mengambilnya dan hendak menyobeknya lalu berkata, “Apakah kamu punya kuah?” Ummu Hani’ menjawab, “Aku punya sedikit cuka.” Rasulullah berkata, “Bawalah kemari, Ummu Hani”.

Lalu Ummu Hani menyerahkan cuka. Rasul mengambilnya dan menuangkannya pasa roti kering itu sampai lunak, kemudian memakannya, dan mengucapkan pujian kepada Allah Swt.

Keenam :

Membantu keluarga dan membantu mereka mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Allah membangun kehidupan rumah tangga di atas dasar rasa mawaddah, cinta kasih, dan ketenteraman.

Beliau memerintahkan kelanggengan kehidupan ini. Hal ini tidak akan terjadi kecuali kedua orang suami dan istri berlapang dada satu sama lain. Tidak boleh ada yang menang sendiri, tidak boleh ditonjolkan ke egoannya, khususnya suami.

Jangan sampai kita, sebagai seorang suami bisanya hanya membuat lelah istrinya dengan banyak menyuruh, memerintah, meminta, dan memberi beban. Seorang suami sangat dianjurkan, jika ada waktu luang, untuk membantu istri kita. Sesungguhnya demikianlah Rasulullah memberi keteladanan kepada kita.

Itulah beberapa ciri ketawadhuan Rasulullah yang bisa dijadikan pelajaran bagi kita selaku ummatnya dan tentunya masih banyak sifat ketawadhuan yang dimiliki oleh Rasulullah. Semoga bermanfaat

Yanis

Berbagai sumber

Bagikan: