Banyak Kendala, Pertumbuhan Industri Strategis Alami Pasang Surut

Bandung, Beritainspiratif.com – Banyaknya kendala yang dihadapi baik dari internal maupun eksternal, membuat pertumbuhan industri – industri strategis sulit untuk berkembang.

Industri manufaktur adalah salah satu industri strategis, yang mengalami pasang surut akibat berbagai kendala tersebut.

Ketua DPD Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jawa Barat Abdul Sobur menuturkan, dalam lima tahun terahir ini pertumbuhan industri manufaktur mengalami pasang surut.

Pada tahun 2015 pertumbuhan industri manufaktur mencapai 4,64%, namun turun menjadi 4,33% di tahun 2016. Tahun 2017 turun lagi menjadi 4,29% dan tahun 2018 hanya tumbuh 4,27%.

“Banyaknya kendala yang dihadapi, membuat pertumbuhan industri ini mengalami penurunan,” ujarnya di Bandung, Jum’at (22/2/2019).

Dijelaskan Abdul Sobur, kendala yang dihadapi industri strategis, antara lain masalah kecukupan suplai bahan baku utama, kualitas dan produktivitas yang rendah. Disamping itu, biaya produksi, distribusi dan handling charges yang tinggi dan banyaknya regulasi yang masih terpusat dan rumit serta tingginya suku bunga bank.

“Buruknya kondisi infrastruktur (jalan raya, rel KA, fasilitas pelabuhan dan bandara), juga menjadi kendala bagi industri,” paparnya.

Lebih lanjut dikatakan Sobur, industri juga dihadapkan pada persaingan produk sejenis dari negara lain yang produknya lebih murah dan produktivitasnya lebih tinggi. Disamping itu, adanya peraturan dari negara tujuan eksport, yang berhubungan dengan isu lingkungan.

“Mahalnya biaya distribusi karena transshipment melalui pelabuhan Singapura, Port Klang dan Hongkong, juga menjadi kendala bagi industri. Padahal, pelabuhan sangat penting dalam menunjang kecepatan dan kelancaran arus barang,” ucapnya.

Menurut Dia, untuk mengatasi masalah tersebut sekaligus neningkatkan eksport nasional, diharapkan pemerintah memfasilitasi eksportir dalam mendapatkan bahan baku dari lokal dengan fasilitas Kemudahan Lokal Tujuan Eksport (KLTE). Selain itu, menurunkan production cost bagi industri upstream dan intermediate goods serta semi finished products, sehingga bisa bersaing dengan barang sejenis asal import.

“Disisi lain industri juga harus melakukan restrukturisasi permesinan/ peralatan industri manufaktur menuju Global Supply Chain dan Industry 4.0, agar mampu meningkatkan daya saing dalam perdagangan dunia,” pungkasnya.

(Ida)

Bagikan: