Bandung, Beritainspiratif.com -Sering kita mendengar istilah Islamophobia, apa itu Islamophobia? Islamophobia diartikan sebagai ketakutan berlebihan yang tidak memiliki dasar berpikir yang kuat tentang Islam bahkan dapat disebut dengan mengada-ada.  Sejak beberapa tahun lalu, isu islamophobia marak digaungkan di berbagai belahan dunia. Istilah ini menjadi semakin sering terdengar ketika perang melawan terorisme yang diprakarsai oleh Presiden Bush berkecamuk. Pasalnya narasi para analis dan media-media Barat seakan mengidentikan Islam dengan terorisme. Islam dikaitkan dengan agama kekerasan dan mengekang kebebasan manusia dengan aturan-aturan yang diturunkan oleh Allah swt. Salah satu propaganda yang diciptakan barat untuk menanamkan islamophobia kepada negara internasional adalah dengan perang melawan terorisme atau “War On Terorism”. Propaganda ini semakin populer dipicu oleh serangan 9/11 terhadap gedung kembar di Amerika.

Sementara di Indonesia sendiri, propaganda terorisme semakin mencuat setelah terjadinya ledakan bom Bali, dan kasus bom sarinah yang terjadi beberapa pekan lalu pun telah membawa pengaruh besar terhadap Islam. Hasilnya berbagai macam tindakan anti-Islam atau Islamophobia kian marak.

Sebut saja aksi yang dilakukan oleh majalah satir prancis Charlie hebdo yang memuat kartun yang menistakan Islam dan Nabi Muhammad saw. sampai pada pelarangan pemakaian burka (cadar penutup muka) bagi Muslimah di Prancis dan Diskriminasi terhadap pelaksaan ibadah umat Muslim (termasuk pendirian tempat ibadah umat Muslim, dsb.).

Stigma negatif terhadap Islam dan Rasulullah juga terjadi pada perjalanan dakwah Rasulullah saw. Saat itu Rasulullah saw mendapat berbagai bentuk hinaan, ancaman, hingga kekerasan fisik. Kaum kafir Quraisy menyebut Rasulullah saw. sebagai orang gila dan tukang sihir.

Ancaman dan penistaan lain terhadap Islam dan diri Rasulullah kerap kali dilakukan oleh kaum Quraisy pada masa itu. Hal itu terjadi karena ketakutan masyarakat jahiliyah terhadap Islam dan kaum muslim.

Menyebarnya islamophobia ini tentu sangat mengkhawatirkan karena akan memperkuat pandangan dan sikap yang menyudutkan warga muslim. Semua ini akan mendorong sikap saling curiga, kebencian, dendam dan kemarahan yang berujung pada menguatnya konflik horisontal di tengah-tengah masyarakat. Terbukti, tidak sedikit masjid yang dilempari kotoran, muslimah yang menggunakan hijab diludahi dan dilecehkan di negara yang penduduk Muslimnya minoritas.

Dalam negara mayoritas beragama islam seperti Indonesia, sikap  anti-islam ini menjadikan pemuda muslim takut dan enggan dalam mengkaji islam, karena takut akan disebut fanatik dan ekstrimis. Hal ini juga bisa diindera dari anjuran-anjuran orang tua agar anak nya tidak dimasukkan kepada kajian-kajian Islam yang fanatik dan radikal, cukup menjadi muslim yang biasa biasa saja. Statement “Islam biasa-biasa saja” yang akhirnya mencukupkan diri untuk menajadi muslim “yang biasa saja”. Lebih miris lagi, Islam “biasa-biasa saja” yang tidak dilandasi pondasi yang kuat ini menyebabkan pemuda justru menjadi bagian dari generasi yang rusak.

Generasi yang menjadikan Islam hanya sebatas agama ritual semata, contohnya sholat lancar namun maksiat lanjut. Lebih jauh lagi menciptakan generasi hedonis dan materialistis, yang senang dengan kehidupan dunia dan lupa bahwa dunia hanya sementara dan akhirat adalah tempat yang kekal. Bisa jadi kaum Muslim saat ini kesulitan memiliki sosok-sosok pemuda luar biasa seperti Mus’ab bin Umair (duta Islam pertama), Thariq bin Ziyad (penakluk Andalusia), Shalahuddin al Ayyubi (pembebas Al Quds), Muhammad Al Fatih (penakluk Konstantinopel), juga Muhammad bin Qasim (penakluk India) adalah karena kaum muslim sekarang mencukupkan diri menjadi Muslim “yang biasa-biasa saja”

Padahal sejatinya Islam adalah agama yang sempurna, yang tidak ada satupun keraguan di dalamnya. Allah swt berfirman :

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah aku cukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Aku ridhai islam sebagai agama bagimu..” (QS. Al-Maidah : 3).

Oleh karena itu, mari bentengi diri agar jangan sampai termakan oleh stigma negatif tentang Islam. Caranya adalah tentu saja dengan mengenal islam secara menyeluruh.

Tanamkan diri dengan aqidah dan pemahaman Islam yang kuat, agar tidak mudah digoyahkan dengan bermacam stigma negatif terhadap Islam. Tak perlu takut untuk mengkaji Islam secara kaffah, Sesungguhnya  Allah swt. memerintahkan kita untuk berislam secara kaffah (totalitas, sempurna). Sebagimana firman Allah SWT :

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu” (QS. Al-baqarah : 208-209)

(Kaka)

Sumber: Hanifah Nur’aini dari bkim.lk.ipb.ac.id

Ilustrasi: Skeptical-Science.com