Ciamis, Beritainspiratif.com – Kampanye di Ciamis, calon Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum dicurhatin  sejumlah warga, terutama guru diniyah. Mereka menuntut kesejahteraan bagi guru diniyah dan ruang kelas yang layak di madrasah.

“Selama ini, kami guru dinniyah tidak diperhatikan oleh pemerintah. Tidak ada gaji, padahal peran kami sama dengan guru lainnya, yakni mencerdaskan bangsa terutama dalam keimanan dan ketakwaan,” kata Dadang Gowi, guru diniyah di Gedung PGRI, Desa Banjarsari, Kabupaten Ciamis,  Sabtu (31/3).

Dadang gowi meminta jika kelak Kang Uu, sapaan akrab Bupati Tasikmalaya terpilih sebagai wakil gubernur mendampingi Ridwan Kamil sebagai gubernur, dapat memperhatikan kesejahteraan guru dinniyah dan fasilitas Pendidikan di madrasah.

Menurut dia, guru dinniyah seharusnya diperlakukan sama dengan guru SD lainnya. Jika mereka mendapat tunjangan sertifikasi dan guru honorer mendapat SK dari pemerintah daerah, kenapa guru diniyah sama sekali tidak. “Sebagai guru diniyah, kami juga ingin diperlakukan sama seperti guru lainnya,” ujar Dadang.

Mendengar hal itu, Uu mengaku prihatin dengan kondisi yang dihadapi para guru diniyah di Ciamis. Hal itu berbeda jauh dengan perhatian pemerintah daerah di Kabupaten Tasikmalaya. Di wilayah yang dipimpinnya, sekitar 28 guru diniyah d dibantu honor 100 ribu per orang.

“Memang tidak besar, tapi itu bentuk bantuan dari pemerintah yang bisa terus menerus ditingkatkan,” kata Kang Uu kepada sekitar 200-an warga yang hadir.

Uu menjelaskan, program Rindu (Ridwan Kamil – Uu) dalam hal meningkatkan kesejahteraan Pendidikan agama adalah dengan membuat Perda Pesantren. Perda itu mengatur soal keberpihakan pemerintah provinsi yang lebih besar pada dunia Pendidikan dan prasarana pesantren, termasuk mensejahterakan para guru pesantren serta guru ngaji.

“Jadi, kedepan, Pendidikan itu tak hanya meningkatkan kualitas sarana dan prasarananya saja, tapi juga akan memperhatikan kesejahteraan para guru, terutama guru-guru diniyah ini,” ujar Bupati Tasikmalaya yang meraih penghargaan sebagai Pembina Desa Terbaik di Indonesia dari Kemendagri.

Selain itu, masalah yang mengemuka pada pertemuan yang berlangsung 1,5 jam itu  antara lain masalah pertanian dan UMKM.

Menurut Uu, untuk meningkatkan komoditas pertanian yang harus diperhatian antara lain, pembangunan irigasi, ketersediaan pupuk, meningkatkan  produksi gabah dan beras, serta membantu pemasaran produk hasil pertanian.

Menurut Uu, di Tasikmalaya sudah ada Gerbang Desa, program yang antara lain membangun irigasi, embung, resi gudang, leuit atau lumbung desa, memperhatikan penyuruh pertanian lapangan, hingga memberikan ilmu agro bisnis kepada para petani.

“Mindset petani diubah tidak hanya  berpikir untuk makan atau nyambung hidup, tapi bertani untuk membeli mobil mercy,” ujar kepala daerah peraih penghargaan bidang pertanian tiga kali berturut-turut ini sambil tertawa.

Adapun persoalan UMKM, seperti diungkapkan Abdul Hanan, warga Banjar Anyar, Ciamis, antara lain, UMKM di Ciamis yang jalan di tempat karena tersandung masalah permodalan dan pemasaran.

Menurut Kang Uu, untuk mengembangkan UMKM, para pelaku UMKM harus diberi pelatihan diberbagai bidang, mulai dari manajemen keuangan, packaging, hingga manajemen pemasaran digital. Jika produknya berkualitas, sebagai pemimpin, maka dia akan membantu menjual produk  mereka keluar Ciamis.

“Seperti di Tasik, ketika ada produk bagus, saya  berkomunikasi dengan para pengusaha di luar Tasik, seperti di Tanah Abang, Yogya, Bali untuk dapat membeli produk Tasikmalaya,” ujar pemimpin yang daerahnya meraih rekor MURI karena berhasil membuat kantong kerajinan terbesar di Jakarta.

Adapun untuk meningkatkan modal usaha, paslon nomor 1, RINDU memiliki program Kredit Melati (Melawan Rentenir), Kredit Mesra (Mesjid Sejahtera) bekerja sama dengan BPR Daerah untuk menyalurkan modal usahanya.

“Saya juga akan terus berkomunikasi dengan Direktur Bank bjb agar UMKM diberikan prioritas dalam menda patkan kredit modal usaha,” kata peraih Satya Lencana dari Presiden tahun 2016 ini. (Yones)