Bandung, Beritainspiratif.com - Potensi konsumsi masyarakat muslim di dunia dari berbagai sektor diperkirakan mencapai 3,2 triliun dollar AS pada tahun 2024. Persoalannya, Indonesia belum mengoptimalkan peluang tersebut.

“Potensi konsumsinya besar, tapi siapa yang mengisi? Ini agak paradoks,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia, Suhaedi, dalam webinar Halal Supply Chain in The New Normal yang digelar Sekolah Bisnis Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB), belum lama ini.

Baca Juga:Kasus-covid-19-bertambah-psbb-di-bodebek-diperpanjang-sampai-29-september

Seperti fashion muslim. Meski Indonesia memiliki jumlah penduduk muslim terbesar di Indonesia, tapi pasokan fashion muslim terbesar dari China. Begitupun dengan daging, berasal dari Brazil dan Australia. Bahkan saat krisis akibat pandemi Covid-19 melanda, dunia menyadari China menguasai supply chain. Begitu China mengalami masalah, dampaknya terasa ke seluruh dunia.

Padahal jika kembali ke masa lalu, Indonesia dan China tidak jauh beda. Pada 1979, PDB per kapita China sebesar 185 dollar AS, berada di bawah Indonesia yang mencapai 380 dollar AS.

“Tapi sekarang? Ini peluang besar bagi Indonesia, tidak hanya jadi pelaku tapi pemain utama. Kita harus berjuang bersama-sama, setidaknya dalam pengembangan ekonomi syariah,” ucap dia.

Ada tiga yang ia tekankan yakni:

Pertama, pengembangan ekonomi syariah dengan penguatan kemitraan baik UMKM, pesantren dalam ekosistem halal value chance berbasis digitalisasi.

Kedua, mendorong literasi termasuk Ziswaf.

Ketiga, riset dan edukasi.

Wakil Dekan Bidang Akademik SBM ITB, Prof Dr Aurik Gustomo ST, MT menambahkan, kebutuhan produk halal baik itu makanan, kosmestik, farmasi, hingga jasa keuangan syariah, pariwisata, dan supply chain sangat besar ke depanya. Survei Thompson Reuters mengungkapkan, pangsa pasar makanan halal di dunia sebesar 2.500 miliar dollar AS. Sedangkan potensi pangsa pasar produk halal untuk makanan di Indonesia, menempati peringkat paling tinggi di dunia sebesar 190 miliar dollar AS.

“Di bawahnya ada Turki dan Pakistan. Untuk farmasi potensinya 4,9 miliar dollar AS. Potensinya tidak hanya untuk muslim tapi juga non muslim,” ungkap dia.

Potensi ini tidak hanya bersumber dari bahan baku, tapi juga proses memilih pemasok, distribusi, hingga produk yang dihasilkan ke konsumen dan ritelnya harus dijamin kehalalannya.

Dosen SBM ITB, Yuliani Dwi Lestari PhD mengatakan pengembangan halal supply chain penting untuk memberikan nilai tambah. Dari hasil penelitian SBM ITB, halal supply chain ini pun akan meningkatkan ketertarikan konsumen untuk membeli produk.

Halal supply chain terdiri dari beberapa hal, misalnya halal logistik yang menjamin kehalalan storage, transportasi, distribusi, hingga sampai ke customer. Prinsip utamanya, mengeliminasi proses kontaminasi saat penyimpanan dan pengiriman serta kesalahan handling dan jaminan kehalalan dari hulu hingga hilir.

Webinar ini juga menghadirkan Muslich Advisor LPPOM MUI yang membahas tentang berbagai regulasi halal di Indonesia.
Kemudian terdapat Hally Hanafiah COO Iron Bird, dan Sucahyo Senior Manager Marketing and Costumer Care IPC Logistics yang menceritakan pengalaman mereka menjalankan halal supply chain di Indonesia.

(Yanis/Rls)