Bandung,Beritainspiratif.com - Ketua Tim Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga PKK prov. Jawa Barat Atalia Praratya menilai kualitas dan kuantitas hubungan antar keluarga semakin berkurang.

Fenomena yang terjadi saat ini akibat tergerus oleh perkembangan zaman, sehingga hubungan antar anggota keluarga berkurang.

"Di era teknologi ini kualitas dan kuantitas hubungan antar keluarga semakin berkurang, baik karena kesibukan, gap antara usia atau faktor lain," kata Atalia pada acara Jabar Punya Informasi (japri) dengan topik Harganas XXVI tahun 2019 di Gedung Sate kota Bandung, Kamis (4/7/2019).

Berkaca dari fenomena tersebut, kata Atalya Pemprov Jawa Barat bekerjasama dengan TP PKK Jawa Barat, terus menerus menggelorakan semangat kembali kepada keluarga melalui berbagai program.

Program Setangkai yaitu Sekolah Tanpa gadget dan program 18 - 21, adalah dua dari sejumlah progran yang dikuncurkan.

Dalam program 18 - 21, keluarga dihimbau untuk tidak menggunakan gadget dan nonton televisi selama pukul 18 sampai pukul 21.

"Gunakan antara waktu itu di meja makan untuk mengobrol, diskusi dan belajar bersama," ujarnya.

"Quote dari saya adalah kemanapun kita pergi, keluarga adalah tempat kita kembali," lanjut Atalya.

Hal senada disampaikan Kepala Bidang Pemenuhan Hak Anak Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) prov. Jabar, Inge Wahyuni.

Menurut Inge, perkembangan teknologi memberikan dampak positif, namun dibalik itu dampak negatifnya juga tidak bisa dihindari.

"Kita lihat di meja makan semua memegang gadget, sehingga tidak ada komunikasi. Maka ada gerakan kembali ke meja makan," papar dia.

Inge menuturkan, sepertiga kehidupan anak ada di keluarga, sepertiga di sekolah dan sepertiganya lagi dilingkungan. Peran dari keluarga sebagai unit terkecil, terutama sosok seorang ibu sangat luar biasa. Karena itu, ia mengajak keluarga kembali ke meja makan, melalui gerakan 18 - 21 tanpa gadget.

"Mari kita terapkan bersama gerakan 18 - 21, beberapa jam saja tanpa gadget," imbuhnya.

Sementara untuk mewujudkan keluarga sehat, Dinas Kesehatan Jawa Barat memiliki berbagai program.

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat Berli Hamdani Gerlung memaparkan, program layanan kesehatan diberikan mulai dari bayi usia kritis yang disebut seribu hari pertama kehidupan, remaja sampai ibu hamil dan lanjut usia.

"Kita kawal dengan berbagai program mulai dari pos yandu, puskesmas bahkan bila diperlukan sampai rumah sakit. Kita juga mengawal agar warga yang sudah lansia tetap sehat, bugar dan produktif. Ulama, usia lanjut masih aktif, sehingga tidak jadi beban keluarga," pungkasnya. (Ida)