Cirebon, Beritainspiratif.com - Senin mendatang, setiap pegawai pemerintah di lingkungan Pemerintah Daerah Kota Cirebon diwajibkan untuk menggunakan baju muslim dan sarung. Ini merupakan penghormatan dan penghargaan terhadap peringatan Hari Santri Nasional.

Hal tersebut diungkapkan Pj Wali Kota Cirebon, Dedi Taufik, saat Opening Ceremony Festival Tajug dalam Rangka Hari Santri Nasional Tahun 2018 di alun-alun Keraton Kasepuhan, Cirebon.

“Senin nanti, 22 Oktober 2018 besok, semua pegawai pemerintah diwajibkan menggnakan busana muslim,” ungkap Dedi. Khusus untuk pegawai laki-laki diwajibkan menggunakan baju koko dan peci nasional.

Penggunaan pakaian tersebut menurut Dedi, sebagai penghormatan sekaligus menghargai peringatan Hari Santri Nasional tahun ini. Terlebih tahun ini diselenggarakan Festival Tajug secara nasional di Hari Santri Nasional.

“Ini merupakan kehormatan dan kebangaan bagi kami, pemerintah daerah dan masyarakat Kota Cirebon,” ungkap Dedi.

Karena itu, Dedi menyambut baik dan memberikan apresiasi atas penyelenggaraan Festival Tajug ini. “Kami yakin melalui kegiatan ini akan mendukung program pariwisata religi yang dimiliki Kota Cirebon dan sekitarnya,” ungkap Dedi. Selain ini, pelaksanaan rangkaian Hari Santri Nasional ini sekaligus sebagai fungsi pendidikan, yaitu pencerahan pendidikan moral, kebijakan, perubahan, latar belakang rujukan dan bukti kebenaran. “Semoga kegiatan ini bisa berjalan sukses ,” ungkap Dedi.

Sementara itu Ketua Panitia Festival Tajug Tahun 2018, KH Mustofa Aqiel Siradj, mengungkapkan jika Festival Tajug dalam rangka Hari Santri Nasional 2018 ini merupakan realisasi dari wasiat Kanjeng Sinuhun Sunan Gunung Jati yaitu ‘Ingsun Titip Tajug dan Fakir Miskin’.

“Sebagai umat yang beriman, kita harus dapat meneruskan dan menjaga tajug,” ungkap Mustofa. Karena fungsi tajug sangatlah luas, tidak hanya sebagai pusat peribadatan namun juga dakwah, serta meningkatkan perekonomian umat.

“Sebelum dibuka, kita sudah mengawali dengan BBM atau bersih-bersih masjid di sejumlah kasultanan di Cirebon,” ungkap Mustofa.

Kegiatan BBM tersebut dilaksanakan sejak 15 hingga 19 Oktober di 9 masjid diantaranya Langgar Agung, Masjid Pejagrahan, Masjid Keraton Kanoman, Masjid Merah Panjunan, Masjid Pangeran Kejaksan, Masjid Buyut Trusmi, Masjid Kramat Kaliwulu, Masjid Agung Sang Cipta Rasa dan Masjid Gunung Jati.

“Sedangkan tadi pagi baru dilaksanakan halaqah yang mengambil tema melestarikan masjid kesultanan dan meneguhkan Islam Nusantara,” ungkap Mustofa.

Untuk kegiatan hari ini, Ahad, 21 Oktober 2018 menurut Mustofa akan diselenggarakan sejumlah kegiatan lomba. Diantaranya puji pujian, tahfiz Quran Juz ke 30, azan pitu, dan tutorial pelatihan sholat sempurna yang diharapkan dapat memberikan dampak positif kepada peserta yang mengikutinya.

“Sedangkan Senin, 22 Oktober 2018 yang merupakan Hari Santri Nasional, kita bersama-sama akan mengadakan syukuran dan resepsi,” ungkap Mustofa.

Selanjutnya Mustofa berharap, rangkaian kegiatan Festival Tajug dalam rangka Hari Santri Nasional ini bisa dijadikan sebagai kegiatan rutin setiap tahunnya. Baik oleh Keraton Kasepuhan maupun Pemerintah Daerah Kota Cirebon yang didukung oleh Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat.

Sementara itu Sultan Sepuh XIV Arief Natadiningrat, mengungkapkan jika tajug merupakan pondasi dalam syiar Islam.

“Saat ini ada sekitar 3 ribu masjdi tertua di Indonesia. Usianya rata-rata 200 hingga 300 tahun,” ungkap Arief.

Salah satunya Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang usianya saat ini sudah mencapai 500 tahun.

Hingga kini masjid itu pun belum mengalami perubahan atau renovasi. Selanjutnya Arief berharap melakukan Festival Tajug ini, para santri bisa menjadi pelopor untuk meramaikan tajug di darah masing-masing dimana mereka berasal.

Sedangkan Wakil Gubernur Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum, mengaku bersyukur dan berterima kasih kepada Presiden Joko Widodo yang telah menetapkan Hari Santri Nasional setiap 22 Oktober tersebut merupakan salah satu bagian dari syiar Islam.

Selanjutnya Uu juga meminta kepada semua pihak, khususnya pemerintah daerah untuk bisa menganggarkan biaya pendidikan bagi santri. Diantaranya menganggarkan dana BOS untuk santri seperti dana BOS yang diterima pelajar lainnya.

“Karena santri juga pelajar, bagian dari tunas bangsa Indonesia yang harus diperhatikan,” ungkap Uu.

Uu juga berharap, di tahun-tahun yang akan datang, pemimpin di negeri ini bisa menjadikan pondok pesantren sebagai bagian dari pendidikan formal dan bukan non formal. “Karena peran agama sangat penting dalam menumbuhkan karakter seseorang,” tegas Uu. Pada kesempatan itu juga wakil Gubernur Jawa Barat melaunching kegiatan Magrib mengaji.   (Yones)