Lombok, Beritainspiratif.com - Berdasarkan hasil pencatatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang disampaikan oleh Kapala BMKG Dwikorita Karnawati, telah terjadi 344 kali gempa, 17 kali diantaranya bisa dirasakan manusia," kata Dwikorita di Mataram, Lombok, Kamis (9/8/2018).

Pada hari Rabu (8/8/2018), Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho Sutopo menyampaikan data yang diterima Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan korban tewas mencapai 131 orang meninggal dan 1.477 luka berat.

Sutopo Purwo Nugroho juga berusaha keras menyampaikan informasi yang akurat melalui media.

Menurutnya, saat bencana terjadi akan muncul krisis informasi.

"Semua orang ingin memperoleh data dan informasi yang komprehensif," tulis Sutopo Purwo Nugroho melalui Twitter pribadinya @Sutopo_PN, Kamis (9/8/2018).

Sutopo menyebutkan informasi resmi yang disalurkan melalui media dapat membuat masyarakat tenang.

Oleh karena itu, ia memilih menahan sakit yang dirasakannya dan tetap fokus menangani bencana gempa Lombok.

Sutopo Purwo Nugroho mengatakan saat memberikan penjelasan kepada media, ia merasa sakit nyeri di tulang.

Pria berusia 48 tahun itu memang mengidap kanker paru-paru stadium 4, meski begitu, Sutopo tetap semangat untuk bekerja.

Melansir dari Kompas.com, Sutopo pertama kali merasakan hal ganjil di tubuhnya pada November-Desember 2017.

Sutopo tiba-tiba merasakan pinggang kirinya nyeri dan sakit batuk.

Ia mengecek jantungnya namun, dari hasil pemeriksaan jantungnya dinyatakan sehat.

Kemudian, Sutopo dirujuk ke dokter spesialis penyakit dalam.

Ia diberi obat asam lambung, tetapi penyakit batuknya itu belum juga mereda.

Sutopo kemudian berkonsultasi dengan dokter spesialis paru-paru.

Sejumlah pemeriksaan dilakukannya, lalu Sutopi mengetahui pemicu nyeri pinggang dan batuk yang ia alami adalah kanker paru-paru dan telah menjalar.

Oleh sebab itu, ia sering merasakan sakit bukan hanya di bagian paru-paru.

Sutopo mengaku bukanlah perokok namun orang-orang yang ada lingkungan sekitarnya perokok.

Saya kira saraf atau tulang yang kena soalnya kan nyeri. Kalau batuk yang kambuhan, hilang gitu. kalau dikasih minum obat sirup yang beredar di pasaran, biasanya batuk sembuh," ucapnya.

Setelah mengetahui penyakit serius yang dialaminya, Sutopo berobat di Indonesia dan Malaysia.

Namun, Sutopo mengurungkan niatnya kemoterapi di Malaysia.

Sang istri memintanya berobat di Jakarta karena dari segi pelayanan dan kualitas tak kalah dengan di Malaysia.

Selain itu, jarak dan waktu tempuh Malaysia dan Jakarta ikut menjadi faktor pembatalan pengobatan kemoterapi di Malaysia.

Sutopo juga menjalani pengobatan herbal.

Setiap hari ia meminum jus berisi bawang putih hitam, buah naga, wortel, dan rempah lainnya yang diracik oleh sang istri.

Meski mengidap penyakit yang serius, Sutopo tetap akan bekerja seperti biasa dan memberikan informasi kebencanaan.

Diniatkan ibadah. Saya akan bekerja seperti biasa, melayani wartawan yang akan diwawancara,

Yanis

Berbagai sumber