Jakarta, Beritainspiratif.com - Bila banyak kalangan dan sebagian besar media massa membahas

fenomena gerhana hanya dari sisi iptek, justru dalam Al-Quran, Hadits, dan

sejarah hidup Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, peristiwa ini

mengandung nilai-nilai luhur yang perlu digali maknanya sebagai pemantik

kesadaran umat akan keagungan Allah dan tanda-tanda kekuasaan-Nya.

Dalam Al-Quran misalnya, matahari dan bulan adalah bagian

dari tanda-tanda besar kekuasaan Allah (QS. Fushshilat [41]: 37).

Tanda-tanda ini betapapun luar biasanya harus mengingatkan orang kepada

kuasa Allah. Pada waktu bersamaan, Allah juga meluruskan akidah menyimpang

dengan melarang ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan-Nya) tersebut dijadikan

sebagai tuhan. Jangan sampai tanda-tanda besar ini

malah memalingkan manusia dari Allah subhanahu wata’ala.

Di sisi lain, sebagaimana terdapat dalam Surah Al-Qiyamah [75]

ayat 8 dan At-Takwir [81] ayat 1, peristiwa gerhana juga memantik kesadaran

orang mengenai peristiwa kiamat, yaitu ketika cahaya bulan hilang dan

matahari digulung, sehingga sinarnya tidak berfungsi lagi.

Dengan mengingat

kiamat, orang akan terlecut kesadarannya untuk menyiapkan diri menghadapi

dahsyatnya hari besar yang begitu membuat semua manusia gempar.

Menariknya, dalam hadits nabi pun, hal itu juga diingatkan oleh

Nabi saw. Sebagai contoh, dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi saw.

mengingatkan bahwa matahari dan bulan, di samping termasuk tanda-tanda

besar kekuasaan Allah, beliau juga mengoreksi akidah yang menyimpang.

Adanya gerhana bulan atau matahari, kata beliau, tidak terkait kematian dan

kehidupan seseorang. Maka, ketika umat Islam melihat peristiwa ini, nabi

memerintahkan mereka segera shalat gerhana, dalam riwayat lain disebut:

lekas mengingat Allah.

Sementara itu, di hadits lain masih Riwayat Bukhari Muslim

yang diperintahkan Nabi saw. bukan hanya shalat, tapi juga berdzikir, berdoa,

istighfar, bertakbir, bersedekah dan berkhutbah. Perintah-perintah ini, di

samping menunjukkan pentingnya mengingat Allah ketika terjadi gerhana, juga

mengandung persiapan bekal menuju akhirat. Bila shalat, dzikir, berdoa,

bertakbir, istighfar adalah menyangkut hubungan dengan Allah, maka

perintah sedekah berkaitan dengan hubungan keshalihan sosial. Semuanya masuk

dalam kategori persiapan bekal menghadapi hari kiamat.

Fenomena gerhana, dalam hadits nabi pun juga mengingatkan tanda

terjadinya kiamat. Dalam riwayat Hudzaifah bin Usaid al-Ghifari –yang

termaktub dalam Shahih Muslim- disebutkan bahwa di antara sepuluh tanda

besar kiamat yang besar adalah terjadi tiga gerhana di timur, barat dan

jazirah Arab. Maka, tidak berlebihan jika dikatakan, peristiwa gerhana

mengingatkan umat tentang hari kiamat yang pada gilirannya membuat mereka

sadar untuk menyiapkan diri dengan iman dan amal shalih, bukan malah

berlomba-lomba menumpuk harta dunia yang tidak akan dibawa mati.

Sedangkan dalam sejarah nabi muhammad (sirah nabawiyah)

sebagaimana yang dicatat Muhammad Ash-Shalihi dalam buku ‘Subulu al-Huda

wa al-Rasyad fi Sirah Khairi al-‘Ibad’ (1993: XI/24)- pada tanggal 13

Rabi’ul Awal tahun ke-10 Hijriah, buah hati beliau bernama Ibrahim wafat

bertepatan dengan gerhana matahari. Peristiwa ini sontak melahirkan

pemahaman keliru di sebagian kalangan sahabat, bahwa adanya gerhana karena

matinya orang besar.

Ketika berita itu sampai kepada Rasulullah shallallahu

‘alaihi wasallam, beliau segera menasihati, meluruskan pemahaman keliru,

serta memusatkan perhatian mereka kepada Allah.

Jadi, ketika terjadi gerhana, setidaknya ada tiga poin (makna)

yang bisa digali: Pertama, mengingat Allah (bahwa segala tanda besar

kekuasaan-Nya tidak akan terjadi tanpa kehendak-Nya). Kedua, membersihkan

akidah dan pemhaman keliru seputarnya. Ketiga, mengingat kiamat,

berorientasi akhirat, sekaligus menyiapkan diri untuk menghadapinya.

Semoga, gerhana bulan total sebagaimana yang telah  diprediksi

BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)

bisa membuat umat kepada Allah semakin dekat, berakidah kuat

sekaligus berpaham tepat dan berorientasi akhirat. Wallahu a’lam.

(Kaka)

Ilustrasi: baabun.com

Sumber: Suaramuslim.net Oleh Mahmud Budi Setiawan

Alumnus Universitas Al Azhar Mesir, tinggal di Jakarta