Beritainspiratif.com - Jakarta tak asing buat Tuan Guru Bajang (TGB) Ulama peraih gelar doktor dari Universitas Al-Azhar Kairo itu pernah menjadi anggota DPR RI dari Partai Bulan Bintang pada 2004-2008, sebelum menjabat sebagai Gubernur NTB selama dua periode dan berpindah ke Partai Demokrat.

TGB menyedot perhatian publik gara-gara tanpa tedeng aling-aling menegaskan dukungannya kepada Jokowi. Padahal, Jokowilah yang ia lawan pada Pemilu 2014 kala dia menjabat sebagai Ketua Tim Pemenangan Prabowo-Hatta di NTB, tanah kelahirannya.

Ketika itu, di bawah komando TGB, Prabowo meraup perolehan suara mayoritas di NTB sebesar 72,45 persen. Angka tinggi ini berbanding terbalik dengan Jokowi yang hanya mampu menghimpun 27,55 persen, membuat NTB menjadi salah satu provinsi tempat Jokowi menderita kekalahan besar tahun 2014, yang dilansir kumparan.com

TGB bukan sembarang orang. Lelaki bernama lengkap Tuan Guru Haji Muhammad Zainul Majdi itu birokrat yang andal mengelola pemerintahan (tak kurang dari 67 penghargaan ia sabet selama memimpin NTB), ulama yang punya massa akar rumput, sekaligus politikus yang luwes lagi lihai.

Memegang jabatan Gubernur NTB selama dua periode, memiliki kursi di Majelis Tinggi Partai Demokrat, dan masuk bursa capres-cawapres di berbagai survei politik, setidaknya menjadi indikasi ketokohan TGB yang cukup penting.

Itu masih dilengkapi garis keturunannya sebagai cucu dari pahlawan nasional dan ulama besar Lombok, Tuan Guru Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. TGH Abdul Madjid mendirikan ormas Islam berpengaruh di NTB, Nahdlatul Wathan, yang kini dipimpin TGB.

Saking populernya TGB di NTB, bila undang-undang tak membatasi periode jabatan kepala daerah, lelaki kelahiran Lombok Timur 46 tahun lalu itu diyakini akan kembali memenangi Pemilihan Gubernur. Terlebih, Nahdlatul Wathan punya jaringan hingga pelosok pulau.

Hubungan baik pun terjalin antara Jokowi dan TGB. Dalam diskusi ‘Capaian 3 Tahun Pemerintahan Jokowi-JK’ yang dihadiri Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko di Universitas Mataram, Jumat (9/3), seperti dikutip dari Antara, TGB berterima kasih kepada pemerintah pusat “atas segala macam bentuk dukungan pembangunan kepada NTB sehingga NTB memiliki kemantapan infrastruktur tinggi.”

TGB, misalnya, terlihat bersama massa Aksi 411 di Jakarta pada 4 November 2016. Aksi tersebut memprotes Gubernur DKI Jakarta saat itu, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yang dituding menghina agama Islam.

Tak heran nama TGB masuk dalam daftar tokoh yang direkomendasikan Persaudaraan Alumni 212 sebagai calon presiden 2019 sebelum kemudian dicoret karena PA 212 berang oleh keputusannya menyeberang.

Diam-diam, dukungan TGB kepada Jokowi telah ia sampaikan secara pribadi kepada sang Presiden beberapa waktu lalu, sebelum ia mengeluarkan pernyataan terbuka ke publik.

Semakin ke sini, saya merasa harus menyampaikan secara terbuka posisi saya sebagai pendukung Presiden Joko Widodo, untuk menghilangkan anggapan bahwa ia tidak ramah kepada umat. Ini sangat penting karena rakyat Indonesia 85 persen Muslim,” kata TGB.

TGB, yang telah memiliki relawan di seluruh provinsi--siap membantu Tim Pemenangan Jokowi, dan berharap dukungannya dapat memperbesar basis suara untuk Jokowi pada Pilpres 2019. Ia sadar pilihannya berpotensi diikuti massa akar rumput di NTB.

Saya yakin persepsi dan penerimaan masyarakat NTB (terhadap Jokowi) sudah jauh meningkat, terutama karena perhatian Bapak Presiden ke NTB yang sangat tinggi.”

Kerap terpojok oleh sentimen keagamaan, Jokowi kini beroleh sekutu kuat dari sosok TGB. Selama ini pun TGB bukannya tak membantu. Sebagai gubernur sekaligus ulama, ia dapat dengan luwes menyampaikan gagasan soal pemerintahan dan pembangunan dalam dakwahnya yang tak cuma berkitar di NTB, tapi juga Sumatera, Jawa, hingga Sulawesi.

Ia mengaku tak cemas bila nantinya sikap politik dia berseberangan dengan Demokrat yang hingga kini belum juga memutuskan hendak mengusung siapa di Pilpres 2019.

Saya tetap pada keputusan saya, karena keputusan ini lahir dari banyak pertimbangan. Semua risiko harus dihadapi.

Yanis